Мы используем файлы cookie.
Продолжая использовать сайт, вы даете свое согласие на работу с этими файлами.

Trombosis sinus vena serebri

Подписчиков: 0, рейтинг: 0
Trombosis sinus vena serebri, atau cerebral venous sinus thrombosis, atau sagittal sinus thrombosis

Trombosis sinus vena serebri, atau cerebral venous sinus thrombosis (CVST) adalah penyakit kelainan pembuluh darah akibat pembentukan gumpalan darah pada pembuluh darah di otak (sinus vena) seperti strok yang langka terjadi dengan gejala klinis dan gambaran radiologis yang bervariasi sehingga sulit untuk didiagnosis. Sel-sel darah pecah dapat menyebabkan kebocoran darah ke jaringan otak dan menyebabkan pendarahan. Penyakit tersebut mempunyai angka kejadian <1% dari semua kasus penyakit strok, tidak termasuk angka kejadian pasti pada orang dewasa. Hingga saat ini, CVST kemungkinan dihasilkan dari koagulopati dan disertai berbagai macam faktor.

Faktor-faktor Resiko CVST

Faktor risiko CVST dapat dikelompokkan dalam dua kelas: sementara dan permanen.

Sementara

Infeksi

  1. Sistem saraf pusat, infeksi tersebut dapat disebabkan oleh virus atau bakteri yang menyerang selaput otak (meninges) dan otak sehingga dapat menyebabkan gejala CVST.
  2. Telinga, sinus, mulut, wajah, dan leher dapat diindikasikan sebagai gejala awal CVST karena menyerang batang otak yang menghubungkan otak ke sumsum tulang belakang dan juga otak kecil.
  3. Penyakit infeksi sistemik

Penyakit lainnya

  1. Dehidrasi menyebabkan aliran darah yang masuk dan keluar di otak tak seimbang sehingga dapat memicu CVST.

Dampak Mekanis

  1. Cedera kepala
  2. Prosedur pungsi lumbal, dapat menyebabkan pendarahan otak dan memicu CVST.
  3. Prosedur bedah saraf
  4. Oklusi kateter jugularis

Obat-obatan

  1. Kontrasepsi oral, konsumsi obat tersebut dapat menyebabkan arteri ke otak tersumbat karena terjadinya penggumpalan.
  2. Terapi penggantian hormon.
  3. Androgen
  4. Asparginase
  5. Tamoksifen
  6. Glukokortikoid

Permanen

Peradangan

  1. Lupus eritematosus sistemik
  2. Penyakit Behçet, penyakit tersebut dapat menyebabkan peradangan di otak dan sistem saraf yang berujung ke CVST.
  3. Granulomatosis Wegener
  4. Tromboangitis obliterans
  5. Radang usus, hal ini terjadi karena kurangnya darah yang kayak oksigen.
  6. Sarkoidosis

Keganasan

  1. Sistem saraf pusat
  2. Hematologi
  3. Tumor solid di luar sistem saraf pusat

Kondisi Hematologi

  1. Polisitemia, trombositemia
  2. Kontrasepsi oral
  3. Anemia, termasuk paroksismal nokturnal hemoglobinuria

Penyakit sistem saraf pusat

  1. Fistula arteriovenosa

Penyakit lain

  1. Penyakit tiroid
  2. Penyakit jantung bawaan, kurangnya oksigen membuat tubuh menghasilkan berbagai hormon yang membuat darah menjadi semakin membeku dan memicu CVST

Pemeriksaan Pada Penderita CVST

Tahap Awal

  1. Pemeriksaan darah lengkap, hal tersebut dapat memberikan informasi mengenai kadar darah yang bersikulasi dalam tubuh atau hal abnormal dalam tubuh.
  2. Panel kimia, pengujian melalui bahan-bahan kimia dapat membantu mempermudah identifikasi penyakit.
  3. Prothrombin time (PT) atau Masa Protrombin dilaksanakan untuk menilai kemampuan faktor koagulasi jalur ekstrinsik dan jalur bersama.
  4. Activated partial thromboplastin time (APTT) dilaksanakan untuk memantau aktifitas faktor koagulasi intrinsik.

Tahap Berkelanjutan (Resiko Tinggi)

  1. D-dimer untuk membantu diagnosis keadaan pasien apabila terjadi aktivasi koagulasi.
  2. Tomografi Terkomputasi atau Computed Tomography (CT Scan) sebagai teknologi neuroimaging (pemetaan otak) terbukti mampu mendeteksi kelainan pembuluh darah di otak.
  3. Pencitraan Resonansi Magnetik atau Magnetic Resonance Image (MRI) mampu mendeteksi CVST trombus di sinus vena.
  4. Magnetic Resonance Venography (MRV) nonkontras terbukti cukup akurat untuk diagnosis CVST terlebihnya dengan variabilitas sinyal trombus dan artefak pencitraan.

Tatalaksana Pengidap CVST

Perawatan-perawatan utama yang harus dilakukan kepada pasien CVST antara lain: rekanalisasi penyumbatan, menjaga venous return, mengurangi risiko hipertensi vena, infark serebral dan emboli paru. Terapi antikoagulan sangatlah penting bagi pasien guna untuk mencegah emboli paru dan memfasilitasi rekanalisasi. Antokoagulan terbukti dapat mengurangi koagulasi (penggumpalan darah) yang menghalangi pembuluh darah dan mencegah pembekuan darah vena. Di samping itu, beberapa pasien juga melalui terapi dengan high molecular weight atau unfractionated heparin (UFH), dan low molecular weight heparin (LMWH).


Новое сообщение